Minggu, 28 Februari 2016

Masa kecil nabi Muhammad SAW

Bismilahirohmanirohim




Tepat 50 hari setelah peristiwa penyerbuan pasukan gajah ke Ka’bah. Usia kandungan Aminah telah mencapai 9 bulan. Detik kelahiran kian dekat, Aminah mulai merasakan ada yang bergerak cepat di perutnya. Dalam Sirah Nabawiyah dikatakan bahwa tali pusar Muhammad SAW sang bayi dari rahim Aminah telah terpotong dan sudah dikhitan. Namun ada sejarah lain ulama berpendapat Muhammad SAW kecil dikhitan kakeknya.
Senin Rabiul awal atau 22 April 571 M, lahir bayi bernama Muhammad SAW hasil perjuangan sendiri dari Aminah. Dari Musnad Ahmad Aminah berkata “ketika aku melahirkan dari rahimku keluar cahaya menerangi istana-istana negeri Syam. Saat bayi ini lahir, berhala-berhala berjatuhan, istana Kisra terguncang dan api persembahan Persia padam. Aminah segera mengirim utusan kepada Abu Muthalib untuk mengabarkan kelahiran cucunya. Saat kakeknya itu tiba, tembikar tempat bayi Muhammad SAW tiba-tiba terbelah 2. Abdul Muthalib sudah diberi tahu oleh raja Yaman, Saif bin Dzi Yasn, serta Umayah bin Abi Shalat bahwa cucunya akan jadi orang besar. Dari ibnu Hisyam diceritakan bahwa sang kakek membawa cucunya itu masuk Ka’bah seraya berdo’a syukur kepadaNYA. Ibnu Ishaq dan Baihaqi berkata bahwa seseorang mendatangi Aminah saat hamil “berilah bayi itu kelak kalau lahir namanya MUHAMMAD, karena sesungguhnya dalam kitab Taurat dan Injil adalah Ahmad, semoga kelak ia dipuji penduduk bumi dan langit”. Saat sang kakek mengadakan aqiqah diundanglah para pembesar Quraisy, dan terjadilah dialog diantara mereka.
“Siapa nama yang kau berikan pada anak itu?”
“Aku akan beri nama MUHAMMAD"
Semua yang hadir saat itu terkejut. Rasulullah SAW dalam Shahih Bukhari bersabda : Aku adalah Muhammad, Aku adalah Ahmad, Aku adalah Mahi (si penghapus) yang diutus untuk menghapus kekafiran. Aku adalah Hasyir (si penghimpun) yang mengumpulkan orang-orang. Dan Aku adalah Aqib yang artinya adalah nabi terakhir dan tak ada nabi setelahnya. Tradisi bangsa Arab, ketika bayi lahir harus disusui wanita lain. Aminah mematung berdiri didepan pintu menggendong anaknya. Ia menunggu cukup lama, menunggu kabilah Bani Sa’ad yang akan menjadi ibu susu anaknya itu. Namun tak satupun rombongan kabilah itu mau menghampirinya karena Muhammad kecil seorang anak yatim tak banyak harta.
“Izinkan aku menjadi ibu susunya” ucap wanita yang diketahui bernama Halimah binti Abu Dzuai. Suaminya bernama Al-Harits bin Abd ullah Uzza. Halimah sekeluarga bukanlah orang berkecukupan. Dia datang ke Mekkah saat musim paceklik, mengendarai keledai putih yang kurus. Ia juga membawa anaknya yang masih kecil serta seekor unta yang sudah tak dapat menghasilkan susu. Allah maha berkehendak, saat hendak pulang seketika air susunya terasa penuh, iapun menyusui. Semenjak menjadi Ibu susu Muhammad SAW, Halimah merasa banyak diberi kemudahan , untanya dan kambingnya menghasilkan lagi. Setiap 6 bulan sekali Halimah datang ke Mekkah menemui Aminah hingga satu ketika masa susuan pun usai. Kami sangat berharap agar dia bisa tinggal bersama kami hingga kuat, karena kami dapat banyak berkah setelah dia saya susui. Dengan berat hati Aminah mengizinkan anaknya dibawa Halimah. Selain Muhammad SAW, Halimah juga menyusui anak lainnya diantaranya Abdullah bin Harits, Hudzafah, dll.
Saat Muhammad SAW kecil berusia 4 tahun, suatu siang sedang bermain bersama anak-anak lain. Jibril datang. Dalam Shahih Muslim diceritakan tentang pembelahan dada Muhammad SAW sbb : tangan mungil anak itu dipegang Jibril, ini membuat kaget dan membuatnya pingsan. Jibril kemudian membuka baju Muhammad SAW, membelah dadanya dan mengambil hatinya. Segumpal hati dikeluarkan kemudian Jibril mencuci “bagian syetan dari hati” tersebut dengan air zam-zam dalam bejana emas. Setelah itu ia menempatkan hati itu ketempatnya semula. Dada yang terbelah itu kembali seperti sedia kala. Anak-anak lainnya menjerit “Muhammad dibunuh!!!”, mereka saat peristiwa terjadi. Halimah terkejut, dan lebih terkejut lagi saat melihat anak itu berdiri, sehat, bahkan rona wajahya cerah memancarkan cahaya. Anas berkata : sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dada nabi SAW (HR Muslim). Pembelahan dada ini menurut Ibnu askit terjadi saat usia Muhammad 10 tahun lebih sedikit. Dalam riwayat lain pembelahan kedua terjadi saat usia Muhammad 50 tahun saat peristiwa Isra’ Mi’raj (HR Bukhari). Mengenai pembelahan dada ini masih diragukan oleh kaum liberalis, rasionalis, orientalis, dan sebagian kaum muslim. Tapi bagi Allah tak ada hal yang mustahil.
Saat Muhammad SAW berusia 6 tahun, Aminah mengajaknya mengunjungi makam ayahnya Abdullah di Yastrib (Madinah). Setelah 1 bulan disana, ketika mereka dalam perjalanan kembali ke Mekkah, suhu tubuh Aminah meninggi. Abdul Muthalib sang kakek cemas akan hal ini, rasa sakit aminah pun bertambah parah, sekujur tubuhnya menggigil. lalu wafat di suatu tempat yang bernama Abwa’ dan dimakamkan juga di sana, ketika itu beliau berusia 6 tahun.

Ketika usia Muhammad SAW genap 6 tahun, ibunda beliau, Aminah binti Wahab, meninggal pula di Abwa’ atau di lereng gunung.
Alkisah, saat itu ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bersama Muhammad SAW setelah mengunjungi paman-paman dan saudara-saudara dari pihak ayahnya, yaitu keturunan Bani Adi bin Najjar di Madinah.
 
Sepeninggal ibundanya tercinta, Muhammad SAW diantarkan oleh pelayan dan pengasuhnya, Ummu Aiman, kepada kakeknya, Abdul Muthalib, ke Mekkah.
Sejak itu Abdul Muthalib merawat dan mengasuh Muhammad SAW dengan segala kemampuannya hingga wafat. Pada saat kakeknya wafat, usia Muhammad SAW masih delapan tahun. Sebelum meninggal, Abdul Muthalib sempat mewasiatkan pengasuh Muhammad SAW kepada Abu Thalib, anaknya.
Abu Thalib adalah saudara kandung Abdullah, ayah Muhammad SAW. Adapun ibunda dari keduanya adalah Fatimah binti Amru bin A’idz.
     
Nabi Muhammad kecil mencari unta
Banyak kabar yang meriwayatkan bagaimana perhatian Abdul Muthalib terhadap cucunya, Muhammad SAW, selama dalam asuhannya. Salah satunya adalah riwayat yang disampaikan oleh Abu Ya’la. Ia menuturkan bahwa suatu ketika, Abdul Muthalib menyuruh Muhammad SAW mencari untanya yang hilang dalam penggembalaan. Setelah beberapa lama ditunggu, cucunya itu tak kunjung datang sehingga ia menjadi gelisah dan bersusah hati. Ketika akhirnya Muhammad SAW kembali dengan membawa unta-unta tersebut, Abdul Muthalib bersumpah tidak akan pernah lagi menyuruh dan meminta bantuannya. Setelah itu, ia juga berjanji tidak akan pernah meninggalkan cucunya itu sendirian.
  
Demikianlah. Sejak itu sang kakek selalu berada di dekat sang cucu. Abdul Muthalib tidak pernah mengizinkan seorang pun memasuki bilik(kamar) Muhammad SAW saat ia sedang tidur.
Nabi Muhammad kecil SAW ikut rapat sang kakek di samping Ka'bah
Disebutkan bahwa Abdul Muthalib memiliki tempat duduk khusus yang tidak pernah diduduki oleh orang selain dirinya dan Muhammad SAW. Abdul Muthalib juga memiliki sebuah tikar khusus di dekat Ka’bah. Namun, tak seorang pun dari anak-anaknya yang berani memakai tikar itu. Mereka hanya berani dan diperbolehkan duduk di sekitar tikar tersebut. Namun Justru Muhammad yang selalu duduk bersama sang kakek di atas tikar itu
Suatu hari, masyarakat Makkah menghamparkan tikar di sisi Ka'bah untuk Abdul Mththalib. Sementara orang - orang yang lain duduk di sekelilingnya, tidak ada seorang pun yang duduk di atas tikar yang telah dihamparkan tersebut sebelum Abdul Mththalib keluar dan duduk.
Hal itu sebagai wujud penghormatan terhadap Abdul Mutholib sebagai pemimpin suku Quraisy.
Tiba - tiba Rosulullah yang saat itu masih kecil, datang dan duduk sebelum Abdul Muththalib duduk. Maka paman - pamannya yang hadir saat itu, memindahkannya ke pinggir.
Ketika Abdul Muththalib melihatnya, maka di berkata:
"Biarlah anak itu, dia bukan orang sembarangan"
Setelah itu, Abdul Muththalib duduk bersama Rasulullah di atas tikar tersebut, mengelus - elus punggungnya dan dia tampak bahagia atas perilakunya.
Setelah Nabi Muhammad SAW berumur delapan tahun. Abdul Muththalib meninggal

Semoga bermanfaat

0 komentar:

Posting Komentar